Surat Senja di Balkon Kecil

Alina sudah lama tinggal sendiri di apartemen kecil dekat jalan utama. Sore itu ia pulang lebih cepat dari kantor, membuat teh hangat, lalu duduk di balkon sambil membaca surat lama yang belum pernah berani ia buang. Hidupnya tenang, tetapi terlalu rapi. Kadang ia merasa semua hari berjalan sama saja.

Di antara buku-buku di meja, ia menemukan amplop baru tanpa nama. Isinya singkat, jujur, dan terasa seperti ditulis oleh seseorang yang benar-benar memperhatikan hal kecil tentang dirinya. Bukan kata-kata manis yang berlebihan, hanya kalimat sederhana tentang senyumnya di kafe hujan minggu lalu.

Keesokan harinya, surat kedua muncul di bawah pot mawar. Penulisnya akhirnya mengaku bernama Arman, pria yang sering duduk di meja dekat jendela kafe. Ia tidak memaksa bertemu, hanya meminta izin untuk mengirim satu surat lagi jika Alina tidak keberatan. Cara sopannya membuat Alina tersenyum lama sekali.

Malam ketujuh, mereka bertemu di kafe yang sama. Percakapan berjalan pelan, seperti dua orang dewasa yang sama-sama tahu rasanya menjaga hati. Arman tidak mencoba terlihat sempurna, dan Alina menyukai itu. Saat hujan turun, mereka berjalan pulang bersama tanpa terburu-buru.

Di depan apartemen, Arman bertanya apakah ia boleh menemuinya lagi. Alina mengangguk, merasa hangat dengan cara yang sudah lama ia rindukan. Tidak ada janji besar malam itu, hanya dua orang yang saling memilih dengan tenang. Bagi Alina, itu sudah cukup untuk memulai sesuatu yang nyata.

Scroll to Top